Anekdot Gus Dur – Doa sebelum Makan

Gus Dur bercanda dengan para pastor di Semarang. “Ada seorang pastor yang mempunyai hobi aneh, yakni berburu binatang buas,” kata Gus Dur. Setiap hari Minggu, setelah selesai misa ia pergi ke hutan.

Ketika melihat seekor harimau, ia langsung saja menarik pelatuk senapan dan menembakanya. “Dor, dor, dor!”

Ternyata tembakan pastor tersebut meleset. Dan….. Harimau tersebut justru balik mengejar. Mengatahui hal tersebut, sang pastor pun langsung lari terbirit-birit.

Namun, sialnya, di depan sang pastor berhadapan dengan jurang yang sangat dalam. Ia pun memilih berhenti. Ia pasrah dan berlutut. Harimau mendekatinya perlahan, siap menerkam.

Jantung sang pastor berdegup makin kencang. Ia mengangkat kedua tangannya sambil berdoa dan menutup mata.

Pastor tersebut berdoa lama sekali. Sang pastor pun terheran-heran karena ternyata ia masih hidup. Ia menoleh ke samping. Dilihatnya harimau itu terdiam di sampingnya sambil mengangkat kedua kaki depannya, seperti sedang berdoa.

Sang pastor bertanya kepada harimau, “Kenapa, kamu kok tidak menerkam saya, malah ikut-ikutan berdoa?”

“Ya saya sedang berdoa. Berdoa sebelum makan!” kata harimau.

Kisah Teladan “Ibnu Hajar (Si Anak Batu)”

              Pada zaman dahulu ada seorang ulama namanya Ibnu Hajar Al Asqalani, beliau semula adalah seorang santri yang bodoh. Beliau belajar kepada kyainya sampai beberapa tahun, namun ia belum juga bisa membaca dan menulis, hingga akhirnya diapun berputus asa. Ia pun mohon diri kepada kyainya supaya diperbolehkan pulang. Dengan berat hati sang kyai memperbolehkan Ibnu Hajar pulang, tapi beliau berpesan supaya jangan berhenti belajar sesampainya di rumah.

            Akhirnya Ibnu Hajar pulang ke rumahnya. Di tengah perjalanan, hujan turun dengan lebat, ia terpaksa berteduh dalam sebuah gua. Oleh karena hujan tak kunjung reda, ia pun memutuskan masuk lebih dalam ke gua sehingga dapat duduk-duduk di dalamnya. Pada saat itulah terdengar suara gemericik. Oleh karena penasaran, ia mendatangi sumber suara tersebut.

           Ternyata sumber suara itu berasal dari gemericik air yang menetes pada sebongkah batu yang sangat besar. Batu besar itu berlubang karena telah bertahun-tahun terkena tetesan air. Melihat batu yang berlubang tersebut, akhirnya Ibnu Hajar merenung. Ia berpikir, batu yang besar dan keras ini lama-lama berlubang hanya karena tetesan air ini. Kenapa aku kalah dengan batu? Padahal akal dan pikiranku tidak sekeras batu, berarti aku kurang lama belajar.

           Setelah berpikiran demikian akhirnya Ibnu Hajar tidak jadi pulang, ia memutuskan untuk kembali ke pondok. Semangatnya kembali tumbuh untuk belajar kepada kyainya. Akhirnya, Ibnu Hajar kembali ke pondok, ia ingin belajar lebih lama dan lebih tekun. Di pondok ia belajar dengan tekun dan rajin serta tidak mengenal putus asa. Usaha tersebut tidak sia-sia. Ia menjadi orang alim, bahkan dapat mengarang beberapa kitab. Dari asal mula cerita batu di dalam gua, inilah kemudian beliau diberi nama Ibnu Hajar (Anak Batu).

Instagram
YouTube
YouTube